Soal Dana WNI Rp600 Triliun, Singapura Siap Bicara dengan RI

Senin, 10 Jul 2017

Bisnis.com, JAKARTA - Tiga negara yang selama ini banyak menampung rekening milik Warga Negara Indonesia (WNI) yakni Singapura, Hongkong dan Switzerland, menyatakan kesiapannya untuk mematuhi standar internasional terkait dengan masalah tax invasion (penghindaran pajak) dan tax avoidance (menghindari pajak) yang menjadi salah satu rekomendasi pada KTT G20, di Hamburg, Jerman.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah Singapura bersama-sama dengan Hongkong dan Switzerland, yang merupakan negara yang banyak menampung rekening milik Warga Negara Indonesia (WNI), telah menyatakan kesiapannya untuk mematuhi standar internasional terkait masalah tax invasion (penghindaran pajak) dan tax avoidance (menghindari pajak) yang menjadi salah satu rekomendasi pada KTT G20, di Hamburg, Jerman.

“Dalam pertemuan G20, tiga negara yaitu Hongkong, Switzerland, serta Singapura, khusus meminta bertemu dan menjelaskan bahwa mereka mengikuti standar internasional itu, bahkan siap untuk menerima Kementerian Keuangan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebagaimana dikutip dari laman setkab.go.id, Senin (10/7/2017).

Menkeu memperkirakan, saat ini masih ada dana milik WNI di luar negeri sebanyak Rp 1.000 triliun, dimana hampir 60% dari dana tersebut berada di Singapura. Menkeu bersyukur karena Singapura sudah menyampaikan sikap mengikuti ketentuan internasional terkait penghindaran pajak itu, mereka menyampaikan dengan Indonesia sekarang dia siap untuk melakukan bilateral yang sebelumnya masuk di dalam multilateral.

“Jadi ini suatu hal yang positif dan saya akan mem-follow up akan seperti ini, supaya kita bisa mendapatkan manfaat semua itu ya,” ujar Sri Mulyani.

Sebelumnya Menkeu Sri Mulyani  Indrawati mengapresiasi kesepakatan yang dihasilkan negara-negara peserta KTT G20, yang memiliki inisiatif untuk menghadapi penghindaran pajak (tax invasion) dan tax avoidance secara sistematis dan global.

Sri Mulyani membandingkan saat dirinya menjadi Menteri Keuangan 10 tahun yang lalu, dimana saat  mau mengejar wajib pajak yang ditengarai akan menghindar,  negara-negara lain biasanya mengatakan ya itu urusan masing-masing silakan saja.

“Kalau sekarang itu merupakan suatu kesepakatan global melalui apa yang disebut inisiatif sehingga avoiding tax dan kemudian Automatic Exchange of Information (AeOI) yang sudah direkomendasi menjadi langkah konkret,” katanya.

Itu berarti, paparnya, setiap negara tanda tangan yang menyatakan kesepakatan bersama untuk kemudian saling kerja sama, dan itu sifatnya mandatory atau wajib bahkan sampai kepada bentuk format pelaporan bagaimana menjaga security confidentiality dari informasi perpajakan.

Oleh : Yusran Yunus, Editor : Rustam Agus, Foto : Sri Mulyani Indrawati. - Antara