Tanda Ekonomi Lesu: Orang RI Tak Banyak Belanja

Kamis, 04 Mei 2017

Jakarta - Ekonomi Indonesia masih dalam kategori lesu, meskipun berhasil tumbuh di kisaran 4-5% dalam beberapa tahun terakhir. Ini tercermin dari daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta menggambarkan daya beli masyarakat yang cenderung stagnan. Artinya orang Indonesia hanya belanja lebih banyak untuk kebutuhan pokok.

"Daya beli kan sampai saat ini masih lemah. Kita ritel ini, dari pertumbuhan dan inflasi kita sendiri memang harusnya di atas 10% baru sehat kita. Karena gabungan itu kan. Itu minimum yang harus kita capai," ungkap Tutum, saat dihubungi detikFinance, Selasa (2/5/2017).

Bila barang yang terjual sedikit, artinya perusahaan harus menanggung beban yang lebih besar. Tutum menjelaskan alasannya adalah, perlunya untuk membiayai tenaga kerja, energi serta lainnya, dengan nilai yang sangat mahal.

"Memang satu hal yang krusial di kita ini biaya-biaya yang terlalu tinggi. Sehingga pertumbuhan tidak kuat dengan kenaikan biaya itu sendiri," ujarnya.

Lebih dari itu, faktor yang paling mempengaruhi yakni hal-hal yang bersinggungan dengan kebijakan pemerintah. "Ya tau sendirilah seperti birokrasinya, administrasi negara sendiri, itu sulit untuk diprediksi. Bukan hanya sekedar biayanya tapi membahayakan juga pelaku usaha," terangnya.

Kendati demikian, melemahnya daya beli tidak berimbas pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi para pekerja ritel secara masif.

"Kita tetep ekspansi. Secara masif tidak ada. Tapi pergantian toko lama ke toko baru pasti ada, orangnya tetep dipakai," tegasnya. (mkj/mkj)

Citra Fitri Mardiana - detikFinance, Foto: Wahyu Setyo Widodo