Ekonomi Tumbuh 5,01% di Kuartal I, Sri Mulyani: Enggak Terlalu Buruk

Selasa, 09 Mei 2017

Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2017 tercatat tumbuh 5,01% year on year (yoy). Angka ini meningkat dibandingkan kuartal I-2016 yang hanya sebesar 4,92% namun lebih rendah dari kuartal I-2015 yang sebesar 5,04%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, capaian 5,01% di kuartal I-2017 tidak lepas dari kemampuan pemerintah dalam menyerap anggaran di awal tahun. Umumnya, pertumbuhan ekonomi di kuartal I mengalami kontraksi karena belum banyaknya belanja pemerintah.

"Jadi kecepatan untuk kuartal I berhubungan dengan dari kemampuan menyerap. Jadi tahun ini bukan jumlah anggaran, tapi kecepatan penyerapan," ujar Sri Mulyani di Gedung BPK, Jakarta, Selasa (9/5/2017).

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2017, lanjut Sri Mulyani, dinilai sudah cukup baik. Pemerintah pun akan terus mengawasi pertumbuhan ekonomi agar bisa mencapai sesuai target 5,1%.

"Kami lihat kuartal I cukup baik, enggak terlalu buruk amat. Nanti kami lihat dari sisi trennya ke depan," tambah Sri Mulyani.

Pertumbuhan ekonomi di awal tahun yang cukup apik ini, kata Sri Mulyani, tidak terlepas dari arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mempercepat penyerapan anggaran ke sektor produktif agar tidak menumpuk di akhir tahun.

"Presiden kan memang ingin akselerasi terutama belanja modal yang produktif," ujar Sri Mulyani.

Pada kuartal I-2017, komponen pengeluaran lainnya, seperti ekspor juga alami pertumbuhan yang positif 8,04%. Untuk impor, tumbuh positif 5,02% setelah pada kuartal I-2016 mengalami kontraksi.

"Ekspor kan sudah kami lihat sejak Desember yang negatif growth-nya mulai netral, hampir nol, bahkan slightly positive," ujar Sri Mulyani.

Di sisi lain, geliat pertumbuhan ekonomi yang kian positif dapat dilihat dari pertumbuhan kredit perbankan kuartal I-2017 yang tumbuh 9,2%. Perusahaan yang antre untuk melantai di Bursa

Selain itu, Sri Mulyani juga mengupayakan agar lonjakan harga pangan menjelang puasa dan Lebaran tidak terjadi begitu besar. hal ini bisa diredam karena musim panen yang mempengaruhi deflasi 0,02% di Maret 2017.

"Pemerintah terus memonitor terhadap barang-barang kebutuhan masyarakat agar tidak terjadi kenaikan signifikan pada bulan Ramadan dan Hari Raya sehingga inflasi dijaga," kata Sri Mulyani. (mkj/mkj)

Ardan Adhi Chandra - detikFinance

Foto: Hasan Alhabshy