Suku Bunga Acuan BI Diprediksi Tetap 4,25%

Kamis, 19 Apr 2018

Jakarta - Hari ini Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan suku bunga acuan atau BI 7days repo rate. Ekonom memprediksi BI akan menahan suku bunga di level 4,25%.

Ekonom PermataBank Josua Pardede memperkirakan BI akan mempertahankan bunga acuan di level 4,25% dengan deposit facility 3,5% dan lending facility 5%.

"Stance kebijakan moneter yang netral pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini masih konsisten dengan menjangkar ekspektasi inflasi di sasaran BI. Serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam rangka menjaga stabilitas makro ekonomi," kata Josua dalam keterangannya, Kamis (19/4/2018).


Dia menjelaskan untuk angka inflasi diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Mei dan Juni seiring peningkatan permintaan pada Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

Volatilitas nilai tukar rupiah sepanjang bulan April ini juga menunjukkan tren yang menurun setelah sebelumnya pada bulan Februari dan awal Maret volatilitas yang cenderung meningkat seiring sentimen eksternal dari kenaikan Fed Fund Rate (FFR) dan isu trade war.

Selain mempertimbangkan stabilitas harga dan nilai tukar, suku bunga acuan BI di level saat ini masih konsisten dalam menjaga Current Account Deficit (CAD) di level yang sehat, mengingat CAD pada kuartal I-2018 diperkirakan melebar di kisaran defisit 2,2-2,5% terhadap PDB dibandingkan CAD pada kuartal IV-2017 yang tercatat defisit 2,2% terhadap PDB.

"Ekspektasi suku bunga acuan yang dipertahankan pada bulan ini diharapkan tetap mendukung momentum pertumbuhan ekonomi pada tahun ini," kata Josua.


Ekonom INDEF Bhima Yudhistira juga memprediksi bunga acuan tetap di level 4,25%. Hal ini karena ada beberapa faktor yang menjadi perhatian utama BI yakni dari faktor eksternal bulan Mei diperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps melanjutkan pengetatan moneter sebelumnya.

"Hal ini berpengaruh terhadap naiknya yield surat utang dan sentimen investor untuk mengalihkan uangnya ke aset dengan return yang lebih besar. Potensi pelemahan nilai tukar pada bulan Mei harus diantisipasi BI," ujarnya.

Kemudian gejolak geopolitik yakni meningkatnya tensi di timur tengah akibat konflik Suriah serta ketidakpastian perang dagang AS-China dapat mengganggu kinerja perekonomian domestik khususnya sisi ekspor. (ara/ara)