Global Updates
- Pasar global ditutup menguat minggu lalu, dimana S&P500 dan Dow Jones mengalami kenaikan masing-masing +1,1% dan +0,3% WoW, sementara itu MSCI Asia ex Japan ditutup menguat +0,9% WoW. Indeks saham AS juga ditutup menguat pada pekan perdagangan lalu, dengan kenaikan moderat hingga Kamis sebelum reli pada Jumat setelah muncul kabar bahwa Mahkamah Agung AS memutuskan untuk membatalkan tarif global luas yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump. Peningkatan ketegangan antara AS dan Iran—yang turut mendorong kenaikan harga minyak—juga menjadi perhatian investor sepanjang pekan tersebut.
- Dari segi domestik, IHSG pada Jumat lalu ditutup menguat sebesar +0,7% WoW dengan kenaikan tertinggi terlihat pada sektor Transportation dan Basic Materials yang ditutup menguat masing-masing +4,1% dan +3,2% WoW. Sementara itu, kinerja terendah ditunjukkan oleh sektor Properties (-0,8% WoW) dan Healthcare (-0,2% WoW).
- Rupiah ditutup melemah (-0,2% WoW) pada Jumat lalu ke level Rp16.873/USD, relatif sama dibandingkan rata-rata kinerja mata uang negara EM lainnya. Sementara itu, indeks DXY bergerak menguat sebesar +0,91% WoW dan ditutup di level 97,8.
- Pasar SBN ditutup bervariasi minggu lalu, dengan pergerakan yield relatif beragam sepanjang tenor berkisaran turun -2 bps sampai dengan naik +7 bps. Koreksi dalam terlihat pada tenor 5 dan 10 tahun, terutama setelah dalam lelang, pemerintah tetap meningkatkan penerbitan di tengah penurunan incoming bid. BI juga kembali mempertahankan BI rate dengan fokus penguatan stabilitas Rupiah. Per 20 Februari 2026, yield SUN 10 tahun ditutup di level 6,46% (+6 bps WoW).
- Total penawaran yang masuk dalam lelang konvensional tercatat sebesar Rp 63,1 triliun, atau turun dari lelang sebelumnya yang sebesar Rp 76,6 triliun. Penawaran terbesar datang dari FR109 (5,1 tahun) sebesar 38% dari total penawaran, diikuti oleh FR108 (10,2 tahun) sebesar 33%. Pemerintah akhirnya menerbitkan Rp40 triliun, diatas target awal yaitu Rp 33 triliun dan lelang sebelumnya Rp 36 triliun.
- Berdasarkan data DJPPR per tanggal 19 Februari 2026, total kepemilikan asing di SBN mencapai Rp 877,74 triliun atau 13,15% dari total SBN yang dapat diperdagangkan.
- Pasar obligasi AS minggu lalu cenderung melemah dimana yield bergerak naik berkisaran +3 bps hingga +7 bps di sepanjang tenor. Pergerakan pasar dipengaruhi diantaranya Fed minutes yang terlihat lebih hawkish dari ekspektasi sebelumnya dan meningkatnya tensi geopolitik antara AS dan Iran. Per 20 Februari 2026, yield UST ditutup di level 4,08% (+3 bps WoW).
Global News
- US Core PCE naik +0,4% secara bulanan (MoM) dan +3,0% secara tahunan (YoY) pada Desember, meningkat dari +0,2% dan +2,8% pada bulan November. Sementara itu, headline PCE naik +2,9% YoY, sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan merupakan level tertinggi sejak Maret 2024.
- US GDP growth pada Q4 tumbuh sebesar +1,4% dibandingkan +4,4% pada kuartal ketiga. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh penurunan belanja pemerintah dan ekspor, serta melambatnya pertumbuhan konsumsi masyarakat.
- Donald Trump memberlakukan tarif global baru sebesar 10% untuk menggantikan kebijakan tarif yang dibatalkan oleh US Supreme Court.
- Federal Reserve merilis risalah rapat bulan Januari pada hari Rabu, yang menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan masih terpecah terkait arah kebijakan moneter ke depan.
- International Monetary Fund (IMF) memperkirakan ekonomi China akan tumbuh sebesar +4,5% pada 2026, namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan +5% yang dicapai pada 2025.
Domestic News
- Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga kebijakan di level 4,75%. Mengingat pelemahan nilai tukar yang masih berlanjut, BI kembali menegaskan bahwa mereka akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi, namun dengan tetap berhati-hati.
- Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit industri perbankan per Januari 2026 sebesar +9,96% YoY. Kredit investasi tumbuh +22,38% YoY, sementara kredit modal kerja dan kredit konsumsi tumbuh di bawah rata-rata, masing-masing sebesar +4,13% YoY dan +6,58% YoY. Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar +13,48% YoY.
- Prabowo Subianto menyaksikan penandatanganan 11 nota kesepahaman (MoU) senilai USD 38,4 miliar antara pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat, sebagai bagian dari trade deal antara US dan Indonesia.
EM Equities Net Foreign Flow
Sumber: Bloomberg, BPAM
Lihat Semua Weekly Market Review