Market Updates
- Pasar global ditutup beragam pada minggu lalu, dimana S&P500 sedikit naik sebesar +0,1% WoW dan Dow Jones turun sebesar -0,2% WoW, sementara itu MSCI Asia ex Japan ditutup melemah sebesar -2% WoW. Pergerakan pasar saham global pekan lalu didorong oleh data inflasi AS yang terakselerasi pada bulan April dimana inflasi inti naik sebesar +0,4% MoM dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar +0,2% MoM. Presiden Fed Chicago Goolsbee mengakui setelah rilis data CPI bahwa AS memiliki "masalah inflasi" dan bahwa inflasi "berjalan ke arah yang salah, tidak hanya pada hal-hal yang terkait dengan minyak dan tidak hanya pada hal-hal yang terkait dengan tarif," yang turut memicu kekhawatiran bahwa Fed mungkin perlu mempertahankan kebijakan moneter yang restriktif untuk waktu yang lebih lama. Selain itu, kondisi geopolitik yang masih tidak stabil setelah kunjungan Presiden Trump ke Beijing masih mewarnai pergerakan pasar.
- Dari segi domestik, IHSG pada Rabu lalu ditutup melemah sebesar -3,5% dibandingkan dengan hari Jumat, 8 Mei disebabkan oleh pengumuman MSCI akan mengeluarkan beberapa nama dari indeksnya. Sektor yang mengalami penurunan terbesar adalah sektor healthcare (-5,7% WoW) dan sektor energi (-3,6% WoW). Sektor yang mengalami penguatan hanya sektor transportasi & logistik (+3,5% WoW).
- Berita yang perlu diikuti minggu ini adalah: ID BI rate, US initial jobless claims, ID current account.
- Rupiah ditutup melemah -0,5% pada Rabu lalu ke level Rp17.465/USD, seiring dengan rata-rata kinerja mata uang negara EM lainnya. Sementara itu, indeks DXY bergerak menguat sebesar +1,4% WoW dan ditutup di level 99,3.
- Pasar SBN ditutup beragam dengan pergerakan yield yang turun -2 bps hingga naik sampai +11 bps. Kenaikan tertinggi terjadi pada area tenor 5 tahun dan 20 tahun. Sentimen negatif membayangi pasar obligasi saat nilai tukar Rupiah menembus USD/IDR 17.500 dan data ekonomi AS yang mendorong kenaikan UST. Meski begitu, kenaikan yield ini masih terlihat bertahap mengingat ada potensi Kementrian Keuangan melakukan Bond Stabilization walaupun belum terdapat detail rilis resminya. Per 13 Mei 2026, yield SUN 10 tahun ditutup di sekitar 6,69% (+9 bps WoW).
- Total penawaran yang masuk dalam lelang konvensional menurun menjadi Rp 51 triliun, dari sebelumnya Rp 75 triliun. Penawaran terbesar datang dari seri FR109 (4,9 tahun) dan FR108 (10 tahun) yang mencatatkan masing-masing 29% dan 15% dari total penawaran. Pemerintah akhirnya menerbitkan Rp 30,3 triliun, di bawah target awal Rp 36 triliun dan penerbitan lelang sebelumnya Rp 40 triliun.
- Berdasarkan data DJPPR per tanggal 12 Mei 2026, total kepemilikan asing di SBN mencapai Rp 868,5 triliun atau 12,76% dari total SBN yang dapat diperdagangkan.
- Pasar obligasi AS mencatatkan pelemahan dimana UST yield tercatat naik sebesar +9 bps hingga naik +11 bps di sepanjang tenor. Sentimen pasar berbalik negatif pasca kembali naiknya harga minyak dan data inflasi AS yang diatas perkiraan yang dapat membuat keputusan kebijakan The Fed higher for longer. Per 13 Mei 2026, yield UST 10 tahun ditutup di level 4,47% (+11 bps WoW).
Global News
- Inflasi inti AS berada di angka +0,4% MoM pada bulan Apr-26, lebih tinggi dari ekspektasi konsensus di +0,3% MoM dan periode sebelumnya sebesar +0,2% MoM.
- Inflasi AS berada di angka +0,6% MoM pada bulan Apr-26, sesuai dengan ekspektasi konsensus dan lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar +0,9% MoM.
- PPI AS berada di angka +1,4% MoM pada bulan Apr-26, lebih tinggi dari ekspektasi konsensus di +0,5% MoM dan periode sebelumnya sebesar +0,7% MoM.
- Klaim pengangguran awal AS tercatat sebesar 211 ribu pada pekan lalu, di atas ekspektasi konsensus sebesar 205 ribu dan di atas periode sebelumnya di 199 ribu.
- Penjualan ritel AS tercatat tumbuh sebesar +0,5% MoM pada bulan Apr-26, sesuai dengan ekspektasi konsensus namun lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar +1,6% MoM.
- Inflasi China tercatat sebesar +1,2% YoY pada bulan Apr-26, di atas ekspektasi pasar sebesar +0,9% YoY dan periode sebelumnya sebesar +1% YoY.
- PPI China tercatat sebesar +2,8% YoY pada bulan Apr-26, di atas ekspektasi pasar sebesar +1,8% YoY dan periode sebelumnya sebesar +0,5% YoY.
- Penjualan ritel China tercatat sebesar +0,2% YoY pada bulan Apr-26, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar +2% YoY dan periode sebelumnya sebesar +1,7% YoY.
Domestic News
- MSCI menghapus 6 saham (AMMN, TPIA, BREN, DSSA, AMRT, dan CUAN) dari standard index serta menyesuaikan angka free float berdasarkan data terbaru dari BEI/KSEI. Total aliran dana keluar (outflow) dari investor pasif diperkirakan akan mencapai lebih dari USD 1 miliar pada akhir bulan ini.
- Pemerintah telah menurunkan target operasional Koperasi Desa Merah Putih menjadi 20 ribu unit yang beroperasi pada Agustus 2026, turun dari target sebelumnya yang sebesar 30 ribu unit.
- Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, resmi menunda rencana kenaikan tarif royalti untuk tembaga, timah, nikel, emas, dan perak. Ia menyebutkan bahwa pemerintah akan menyusun formulasi yang lebih "optimal dan adil" bagi semua pihak yang terlibat.
EM Equities Net Foreign Flow
Sumber: Bloomberg, Batavia
Lihat Semua Weekly Market Review