Global Updates
- Pasar global ditutup menguat pada minggu lalu, dimana S&P500 dan Dow Jones mengalami kenaikan masing-masing +0,9% dan +0,7% WoW, sementara itu MSCI Asia ex Japan ditutup menguat +4,7% WoW. Pergerakan pasar saham global pekan lalu didorong oleh sentimen positif yang muncul dari harapan terjadinya deeskalasi tensi geopolitik antara US dan Iran setelah ditandatanganinya memorandum of understanding dan meningkatnya lalu lintas kapal yang melewati selat Hormuz, walaupun rapat the Fed di tengah pekan sempat memicu sell-off akibat komentar dan proyeksi Fed yang lebih hawkish.
- Dari segi domestik, IHSG pada Jumat lalu ditutup menguat sebesar +2,8% WoW dengan penguatan tertinggi terlihat pada sektor Basic Materials dan Consumer Cyclicals yang ditutup menguat masing-masing +7,2% dan +4,4% WoW. Sementara itu, penurunan terdalam ditunjukkan oleh sektor Properties & Real Estate (-2,1% WoW) dan Technology (-0,3% WoW).
- Berita yang perlu diikuti minggu ini adalah: US PMI dan US core PCE.
- Rupiah ditutup menguat (+0,4% WoW) pada Jumat lalu ke level Rp17.790/USD, relatif lebih kuat dibandingkan rata-rata kinerja mata uang negara EM lainnya. Sementara itu, indeks DXY bergerak menguat sebesar +1,1% WoW dan ditutup di level 100,8.
- Pasar SBN ditutup menguat, dengan yield turun sebesar -9 bps hingga -34 bps di sepanjang tenor, seiring penguatan USDIDR menuju level 17.700. Kinerja positif pasar obligasi pekan lalu didorong oleh kelanjutan siklus kenaikan suku bunga BI yang agresif sebesar +100 bps sejak April, yang mengindikasikan komitmen kuat BI dalam menstabilkan rupiah. Selain itu, aturan baru DHE SDA terkait retensi devisa hasil ekspor turut memberikan dukungan struktural terhadap pasokan FX domestik, sementara hasil Global Market Accessibility Review dari MSCI menunjukkan risiko rendah bagi Indonesia untuk diturunkan ke status Frontier Market. Ke depan, pelaku pasar masih akan mencermati kelanjutan konsolidasi fiskal serta dinamika inflasi pasca kenaikan harga BBM di bulan Juni. Per 19 Juni 2026, yield SUN 10 tahun ditutup di sekitar 7,08% (-34 bps WoW).
- Total penawaran yang masuk dalam lelang sukuk tercatat sebesar Rp 19,1 triliun, atau turun dari sebelumnya yang sebesar Rp 26 triliun. Penawaran terbesar datang dari seri SPNS 9 bulan dan PBS30, yang mencatatkan penawaran lebih dari 50% dari total penawaran yang masuk. Pemerintah akhirnya menerbitkan Rp 9,5 triliun, di bawah target awal namun diatas penerbitan lelang sebelumnya.
- Berdasarkan data DJPPR per tanggal 18 Juni 2026, total kepemilikan asing di SBN mencapai Rp 870,2 triliun atau 12,60% dari total SBN yang dapat diperdagangkan.
- Pasar obligasi AS ditutup beragam dimana UST yield tercatat bergerak sebesar -3 bps hingga +10 bps di sepanjang tenor. Tenor-tenor pendek bergerak naik, sedangkan tenor-tenor panjang cenderung mencatatkan penurunan yield.
- Pergerakan pasar obligasi AS diwarnai oleh sentimen perang AS-Iran yang bergerak positif, dengan penandatanganan kesepakatan damai sementara yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Dari sisi moneter, the Fed menahan suku bunga di level 3,75%, dengan stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama bagi Gubernur the Fed yang baru yaitu Kevin Warsh. Di saat yang sama, Warsh juga melakukan pembentukan task force untuk mengevaluasi kerangka kebijakan yang ada, termasuk target inflasi. Per 18 Juni 2026, yield UST 10 tahun ditutup di level 4,45% (-3 bps WoW).
Global News
- The Fed mempertahankan suku bunga FFR dalam kisaran target 3,50%-3,75% dengan FOMC members meningkatkan proyeksi inflasi PCE pada tahun 2026 ke 3,5%-3,7% dari sebelumnya 2,6%-3,1%.
- Klaim pengangguran awal AS untuk periode mingguan yang diakhiri tanggal 13 Juni tercatat sebesar 226 ribu, diatas ekspektasi konsensus 225 ribu namun di bawah periode sebelumnya di 229 ribu.
- Harga rumah primer dan sekunder China pada bulan Mei tercatat masih mengalami penurunan masing-masing -0,20% dan -0,26% MoM.
- China retail sales pada bulan Mei tercatat mengalami penurunan -0,6% YoY, dibawah ekspektasi konsensus di angka -0,2% YoY.
- China industrial production pada bulan Mei tercatat mengalami kenaikan +4,5% YoY, diatas ekspektasi konsensus di angka +4,4% YoY.
Domestic News
- Bank Indonesia menaikkan BI rate sebesar 25 basis point pada RDG di bulan Juni ke level 5,75% setelah sebelumnya meningkatkan 25 basis pada tanggal 9 Juni. Hal ini dilakukan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga tingkat inflasi tetap berada dalam kisaran target 2,5±1%.
- Bank Indonesia mengumumkan penurunan threshold beli tunai valuta asing terhadap Rupiah tanpa underlying menjadi USD10.000 per pelaku per bulan yang mulai berlaku 1 Juli 2026.
- Posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar USD 439,8 miliar atau meningkat +1,9% YoY.
- Pada bulan April 2026, OJK mencatat rasio kredit bermasalah (NPL gross) perbankan mengalami peningkatan ke level 2,17%, dari akhir 2025 yang sebesar 2,05%.
EM Equities Net Foreign Flow
Sumber: Bloomberg, Batavia
Lihat Semua Weekly Market Review